• Kepada yang terhormat para stakeholder KKI dan peserta Sosialisasi KKI di Medan, 31 Juli - 2 Agustus 2017, kami sampaikan bahwa bahan dan materi dapat diunduh dengan masuk ke menu informasi lalu memilih E-Book. Terima Kasih. •
    + Peta Situs   + Kontak   + Bahasa   Indonesia   English
 
Home » INFORMASI » Artikel
 

Menegakkan Pilar Etik Profesi Kedokteran
31 Agustus 2013

Bergelut dalam dunia kedokteran tidak cukup hanya berbekal intelegensi. Masih ada sederetkompetensi yang patut dipenuhi demi terciptanya integritas profesi. Salah satu modal utama yang wajib dimiliki dokter adalah kemampuan berkomunikasi efektif.  Seorang dokter harus dapat berkomunikasi dengan siapa saja tutur Prof. dr. Menaldi Rasmin, SpP(K), Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).

Oleh karena itu tidaklah mengherankan bila dokter dituntut untuk membina relasi yang baik dengan berbagai pihak. Masalah kemudian muncul apabila kerjasama tersebut tidak mengindahkan aturan-aturan etika etik profesi yang berlaku. Adapun aturan etik kedokteran tersebut mengacu pada Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia yang dikeluarkanoleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia Ikatan Dokter Indonesia (MKEK IDI). Namun, masalah etik kian menjadi abu-abu bila tidak ada control dan pengawasan berkala.

Hukuman untuk masalah etik adalah sangsi moral. Oleh karenanya,organisasi profesi harus berani menegur dan melakukan pembinaan agar masalah tersebut tidak terulang lagi. Bilaperlu, teguran dapat dilanjutkan dengan hukuman yang lebih berat. ungkap Menaldi. Ia pun menambahkan, saat ini tidak hanya MKEK yang menyorot masalah etik kedokteran. Sebut saja Makelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) serta beberapa LSM yang secara tidak langsung turut menjadi lembaga control etik kedokteran. Lembaga-lembaga itu seyogyanya mampu turut serta mengawasi dan mencegah tindak kerjasama yang menyalahi aturan, lanjut Menaldi.

Meskipun demikian, Problematika etik sarat dengan nilai-nilai moral yang dipegang masing-masing individu. Itulah sebabnya, nilai-nilai tersebut hendaknya dipupuk sejak awal pendidikan kedokteran. Contoh teladan yang baik juga perlu diberikan oleh segenap staf pengajar.

Dengan demikian, keberanian organisasi profesi, lembaga control, serta pendidikan merupakan pilar penting untuk membangun etik kedokteran di Indonesia. Sejatinya, semua dokter telah mengenal etik kedokteran. Pedoman berprofesi tersebut telah diperkenalkan sejak duduk dibangku pendidikan, hingga menjadi suatu pengalaman pribadi. Namun, apakah nilai-nilai tersebut akan terus terpatri dalam perjalanan karir para dokter masih menjadi suatu pertanyaan besar. Bagaimana dengan anda


Sumber : -
Penulis : -

 



KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA
Jl. Teuku Cik Ditiro No 6 Gondangdia, Menteng, Jak.Pusat 10350
Telpon : 021-31923181, 021-31923191 Fax 021-31923186
Email : inamc@kki.go.id